Beliau adalah bapak Samin berusia 45 tahun memiliki 4 orang anak yang hanya mampu beliau sekolah kan hingga Sekolah Dasar saja, dikampung kelahirannya diLosari Brebes menuruk beliau sangat kurang untuk membuat beliau mampu menghidupi keluarganya hingga ahkirnya beliau merantau dan bekerja sebagai ojek perahu di Sungai Banjir Kanal beserta istri dan anak tertuanya.
Pada awal kedatangannya diSemarang pada tahun 1982 perekonomiannya masih sangat terbantu oleh karena pada saat itu jembatan masih sangat sedikit dan kendaraan yang masih jarang, tapi sekarang pendapatannya yang tak seberapa ini yang hanya Rp 1000 rupiah untuk sekali menyebrang tak mampu menopang perekonomian beliau lagi.
Beliau hanya mampu hidup diatas perahu yang biasa beliau gunakaan untuk jasa ojek perahu, minum dan mandi pun beliau dan keluarga masih menumpang dimasjid terdekat.
Yang perlu dipelajari dari beliau adalah, beliau tidak pernah mengeluh dan mengharapkan bantuan dari seseorang, beliau tetap menjalani harinya dengan senyuman dan tanpa memikirkan bagaiman beliau dapat memperoleh sesuap nasi untuk keluarganya, beliau hanya percaya Tuhan lah berskenario dalam segala kehidupannya.
Maka dari itulah jangan pernah menutup mata untuk melihat orang - orang yang berada dibawah kita, kita membutuhkan kesadaran kita untuk melihat kebawah agar kita mampu bersyukur. Saat Tuhan mengabulkan apa yang kamu minta apakah kamu tetap menutup mata untuk melihat mereka yang tak seberuntung kamu tetapi mereka tetap bisa bersyukur?
- TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya. ~ Mazmur 28:7
- Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi! ~ Mazmur 52:9


